wahyudin tamrin

Mengikat ide dengan tulisan

Post Page Advertisement [Top]

Panorama Taman Batu Karst Balocci. (Sumber: eksplorewisata.com)

Sinar matahari diufuk barat sudah berwarna kuning keperakan. Saya dan saudara beserta sepupu masih terus mengendarai sepeda motor menyusuri jalan yang berbelok-belok di tengah sawah. Di sekitar sawah terlihat pengembala menjaga sapi yang sedang makan rumput. Juga terdapat bukit-bukit di sekitar sawah. Di kejauhan, masih berdiri kokoh gunung batu kapur.

Kami baru saja pulang dari ziarah kubur di Kampung Bonti, tempat saya dilahirkan 22 tahun lalu. Sebelum kembali ke Maros, kami hendak singgah untuk melihat keindahan Taman Batu Karst Balocci.



Memasuki kawasan Taman Batu Karst Balocci, tidak ada papan selamat datang, warung makan, gaet, apalagi penginapan. Pasalnya tempat ini belum dikelola oleh pihak pengelola wisata dan masih alami.

Setelah mengendarai sepeda motor beberapa km, di pinggir jalan terdapat beberapa kendaraan sedang parkir. Hanya ada anak-anak yang sedang bermain.




“Mauki ke Taman Batu? Di sini ji di simpan motor. Di sanai itu taman,” kata anak tersebut sambil menunjuk ke bukit yang ditumbuhi beberapa pohon.

Setelah melewati beberapa pematang sawah, seorang pria kepala empat menahan kami. “Bayarki dulu Rp 3.000 perorang kalau mauki masuk,” katanya.

Dua tahun lalu, orang masih bebas keluar masuk dari tempat ini. Namun karena seiring berjalan waktu, semakin banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Sehingga warga setempat memanfaatkannya untuk menambah penghasilan.

Masya Allah! Semua terjadi atas kehendak Allah. Beberapa batu tampak tersusun indah dengan sendirinya.

Tekstur batu kapur itu begitu unik dan menakjubkan. Ada yang menjulang tinggi dan ada yang berongga hingga membentuk gua kapur.

Keunikan Taman Batu Karst Balocci ini terletak pada bentuknya yang seperti menara atau tower yang berdiri sendiri maupun berkelompok membentuk gugusan batu gamping yang menjulang.

Tempat ini menyajikan pemandangan eksotik berupa hamparan batu karst yang unik. Bahkan, beberapa diantaranya terlihat seperti sengaja disusun.

Taman batu ini memang punya daya tarik yang bagus. Bebatuan besar warna hitam yang seperti karang ini pun cukup besar. Bahkan, susunannya terlihat seperti tangga hingga menjadi sebuah bukit.

Taman Batu Karst ini berjarak sekitar 17 km dari perbatasan Maros-Kalibone Pangkep menuju Soreang. Lalu masuk ke jalan menuju eks pabrik semen Tonasa satu sekitar 2 km dengan mengendarai kendaraan roda dua.



Kami pulang dari lokasi ini menjelang magrib. Di perjalanan saya sempat merenung. Dipikiran saya terlintas bahwa batu-batu tersebut dulunya pasti sebuah gunung batu yang besar. Namun karena tetesan air hujan yang terus menimpanya sehingga sifat batu yang begitu keras itu semakin terkikis dan membentuk seperti candi karang. Apalagi di atas batu tampak lubang-lubang bekas tetesan air.

Teringat sebuah nasihat yang sering terlontar dari sang guru di sekolah yang mengatakan bahwa "Sekeras apapun batu, jika ditetesi air secara terus menerus, maka batu tersebut akan berlubang dan bisa menjadi pecah".

Peribahasa tersebut bermakna bahwa setiap perjuangan tidak akan pernah sia-sia. Selama kita terus menerus bekerja keras dan tidak pernah menyerah, maka pasti kita bisa meraih impian kita. Semua itu hanya masalah waktu saja.

Foto-foto yang sempat tertangkap lensa kamera Android Oppo A37.











No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib