Belajar dari Kisah Jonathan si Burung Camar

February 13, 2020

"Mungkinkah mendidik pemimpin?" tanya Kak Therry kepada peserta Guardian of Peace saat memulai materi Peace and Leadership Class di ruang KITA Bhinneka Tunggal Ika, sebuah Ruko Business Center berlantai 4 di Jalan AP Pettarani, Rabu, 12 Januari 2020.

Camar (Sumber: google)
Di ruangan berukuran 9x5 meter itu peserta Guardian of Peace mengikuti kelas pertama pasca Peace Leadership Traning, tiga hari yang lalu. Kegiatan yang diikuti 17 peserta ini dimulai pukul 17.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 19.30 Wita.

Setelah memberi pertanyaan, peserta kemudian diberi kesempatan untuk berdiskusi bagaimana perspektif masing-masing terkait seorang pemimpin. Apakah dilahirkan atau diciptakan?

Tiga menit waktu lebih dari cukup. Perspektif masing-masing telah diceritakan.

Bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan tadi, Kak Therry lanjut bercerita tentang seekor burung camar yang bernama Jonathan Livingstone. Camar merupakan sejenis unggas yang banyak hidup di negara Belanda. Katanya seperti itu, saya sendiri baru pertama kali mendengar kata camar di forum tersebut.

Selain ceritanya yang menarik, cara Kak Therry menceritakannya membuat hampir semua yang ia katakan tersimpan di memori.

Kak Therry saat bercerita
Jonathan, kata Kak Therry, adalah seekor camar yang berbeda dengan kawanannya. Perbedaan bukan pada bentuk, tapi pada kebiasaan dan prinsip.

Umumnya, terbang bukanlah hal yang penting bagi burung camar, melainkan makan. Mereka hidup untuk makan. Sehingga ketika mereka sudah bisa terbang untuk mencari makan, itu sudah cukup.

Berbeda dengan Jonathan. Baginya, terbang adalah sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Makan tidak terlalu penting. Ketika sudah mendapat energi untuk terbang dari makanan, itu sudah cukup.

Karena memiliki pendapat yang berbeda dari yang lainnya, hal itu membuat orangtua Jonathan khawatir akan keberlangsungan hidupnya. Orangtuanya pun memintanya untuk meninggalkan pendiriannya dan mengikuti kebiasaan para camar lainnya. Ia pun menuruti kata orangtuanya.

Tidak berlangsung lama, Jonathan bosan dan merasa apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan prinsipnya. Ia pun akhirnya kembali melakukan kebiasaannya yakni terbang ke sana kemari.

Karena Jonathan tidak mau mengikuti kebiasaan camar, ketua camar pun memanggil dan mengadili Jonathan. Menurut ketua adat camar, Jonathan harus mengikuti kebiasaan adat yakni mencari makan. Apalagi musim dingin segera tiba, jadi perlu persiapan makanan untuk menghadapi musim tersebut.

Tetapi Jonathan tetap tidak melakukan kebiasaan sehingga membuat ketua camar marah lalu mengusir Jonathan dari komunitasnya.

Jonathan pun pergi dan hidup sendiri di pinggiran pantai. Tentunya di luar komunitasnya. Suatu ketika, dari ketinggian, Jonathan meluncur ke permukaan laut untuk menangkap ikan. Tapi tiba-tiba saja sayapnya patah dan itu membuatnya menderita.

Ia lalu merenungkan nasibnya yang kesepian dan kesakitan. Hal yang bisa ia lakukan hanyalah bersabar dan mencari cara untuk bisa bertahan hidup lalu bisa belajar terbang setinggi-tingginya dan secepat mungkin.

Dengan segala keterbatasannya, ia selalu berusaha dan mencoba berbagai mekanisme baru hingga akhirnya ia bisa terbang dengan tinggi. Setelah terbang dengan ketinggian tertentu, ia kemudian bertemu dengan dua ekor camar yang tidak ia kenali.

Rupanya, kedua camar tersebut berasal dari komunitas camar lain. Akhirnya, Jonathan pun diajak dan dibawa ke komunitas kedua camar itu.

Di komunitas baru itu, ia mulai beradaptasi dan merasa senang karena bisa belajar terbang dengan bebas. Di komunitas itu juga ada sekolah yang dipimpin oleh Guru Ciang. Jonathan pun ikut belajar di sekolah itu.

Jonathan diajari bagaimana cara berpikir secepat mungkin. Dalam hal ini kecepatan dalam terbang bisa secepat cahaya atau suara.

Terakhir, Guru Ciang mengajarkannya ilmu tertinggi yakni kesempurnaan cinta. Ia mengajar Jonathan agar ilmu yang didapatkan selama ini, itu kemudian dibagikan ke yang lain.

Ini merupakan ilmu tertinggi dan sempurna karena tidak dibatasi oleh jarak. Tinggal menunggu waktu. Sementara ilmu kecepatan suara dan cahaya tadi, masih dibatasi oleh jarak.

Setelah memberitahu ilmu tersebut, Guru Ciang kemudian menghilang entah ke mana. Karena ia merupakan tetua di komunitas itu, dan tidak ada yang bisa menggantikannya selain Jonathan. Dan hanya Jonathanlah yang mewarisi ilmunya.

Setelah dipilih, Jonathan kemudian kembali teringat orangtuanya, keluarga, dan teman-temannya. Ia lalu terbang dan kembali ke komunitas asalnya. Namun, Jonathan tetap mendapat penolakan.

Meski ditolak, ia tetap tinggal di sekitaran komunitasnya dan terbang dengan kecepatan dan gaya yang ia miliki. Hingga suatu ketika beberapa camar secara diam-diam memperhatikannya lalu ikut belajar ke Jonathan.

Begitu seterusnya hingga akhirnya banyak camar yang ikut belajar bersama Jonathan secara diam-diam. Karena sudah terlalu banyak, mereka yang ketahuan ketua adat camar belajar bersama Jonathan pun ikut diusir dan dikeluarkan dari komunitas.

Mereka yang dikeluarkan akhirnya bisa belajar tentang bagaimana kecepatan terbang. Hingga akhirnya musim dingin pun tiba.

Ternyata musim ini berbeda dengan sebelumnya. Camar yang berada di komunitas awalnya susah mendapat makanan hingga akhirnya mereka kelaparan lalu mati. Hal tersebut karena makanan berada jauh di dasar laut, sementara mereka memiliki keterbatasan terbang dan kecepatan dalam menangkap ikan.

Sementara mereka yang dikeluarkan dari komunitas camar dan belajar bersama Jonathan, ternyata bisa bertahan hidup karena telah banyak belajar tentang kecepatan terbang lalu mencari makanan di dalam air. Hingga akhirnya Jonathan kembali bersama para camar di komunitasnya lalu ia mengajarkan ilmu yang telah ia dapatkan.

***

Peserta KITA Bhinneka Tunggal Ika
Kisah yang diceritakan Kak Therry tentang Jonathan adalah analogi kepemimpinan dan perjuangan hidup yang dibalut dengan seekor camar agar menarik. Ceritanya mengalir dengan sangat baik dan mirip dengan yang sering dialami.

Secara tidak langsung, dari cerita tersebut, telah menjawab pertanyaan pertama tadi. Hanya perlu diskusi dan saling bertukar pendapat untuk lebih memahami maksud lebih detail cerita tersebut. Diskusi membahas kesimpulan dengan memasukkan serta menceritakan pengalaman pribadi yang mirip dengan kisah Jonathan. Secara bergantian peserta Guardian of Peace bercerita.

Saya juga salah satu peserta teringat masa waktu SMK lalu menceritakannya. Delapan tahun lalu, ketika masuk di SMK Kristen Bala Keselamatan Palu, banyak pertentangan yang muncul baik dari diri saya pribadi, orangtua, keluarga, dan lingkungan sekitar di kampung halaman. Tapi mau tidak mau, saya harus lalui untuk terus melanjutkan pendidikan saya.

"Dari pada menganggur, lebih baik saya tetap lanjut. Takutnya jika menganggur satu tahun, semangat untuk sekolah menurun," pikirku waktu itu.

Mungkin saya berbeda dengan Jonathan. Jika Jonathan dia diusir dan tidak menurut. Saya waktu itu, hanya mengikut arus meski memiliki pertentangan dari berbagai pihak.

Pertentangan hadir bukan karena sekolah dan sistem belajarnya yang tidak bagus. Melainkan pada keyakinan yang dianut di sekolah tersebut. Tiga tahun saya belajar dan mengikuti semua jenis peribadatan umat nasrani.

Dari cerita tersebut, saya menyadari bahwa selama ini banyak tantangan dan perubahan dalam diri yang kita tidak sadari. Dari berbagai perubahan dan resistensi dalam perjalanan hidup, itu ternyata sedikit demi sedikit merubah pola pikir kita.

Ada beberapa hal yang bisa dipetik dan dijadikan pelajaran untuk menjalani kehidupan kedepannya nanti.

1. Diri Sendiri

Dari cerita Jonathan, berawal saat ia memiliki pemikiran yang tidak sependapat dengan kebiasaan camar di sekitarnya. Tentunya berawal dari dalam diri sendiri. Apakah mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh lingkungan kita? kadang pertanyaan itu muncul di benak saya sendiri.

Umumnya, kita lebih sering meniru dan mengikuti arus. Apa yang orang lain telah dapatkan dan raih, kita juga ingin seperti itu.

2. Keluarga

Orangtua Jonathan merasa khawatir dengan prinsipnya, sehingga ia memintanya untuk mengikuti kebiasaan camar pada umumnya, sementara itu bertentangan dengan keinginan Jonathan.

Keluarga terkadang kontradiktif dengan keinginan dan kebutuhan diri kita. Tidak jarang ada keluarga atau orang tua yang mengarahkan anaknya untuk mengikuti keinginannya tetapi itu tidak disukai oleh anaknya. Hanya karena melihat anak orang lain sukses di bidang tersebut yang sebenarnya tidak semua orang memiliki keinginan yang sama.

Hal tersebut wajar karena orangtua terlalu sayang pada anaknya, sehingga terkadang mereka ingin melihat anaknya seperti anak orang lain atau minimal cukup seperti diri mereka. Yang penting bisa bangun di pagi hari, kemudian bekerja, lalu menikmati hasil panen, dan besoknya kembali lagi seperti itu.

3. Komunitas

Bukan hanya keluarga, komunitas camar yang Jonathan tempati juga bertubrukan dengan prinsip Jonathan dan itu yang membuatnya terpaksa di usir dari komunitasnya.

Dalam kehidupan, tidak jarang kita masuk dalam komunitas tertentu dan memaksa kita mengikuti kebiasaannya padahal itu bertentangan dengan hati nurani dan prinsip kita.

Hal yang sering terjadi juga, tidak jarang ketika kita membuat sesuatu yang baru, selalu saja ada sindiran dari orang sekitar. Mau dibilang apalah, sok lah, atau kata-kata yang bisa saja menurunkan semangat kita untuk terus maju.

4. Kembali ke Diri Sendiri

Setelah diusir oleh ketua adat camar, Jonathan pun kembali merasakan kesendirian dan merenungkan apa yang telah ia lakukan. Ia merasa kesepian.

Tetapi Jonathan tidak putus asa untuk belajar terbang. Ia terus mencoba cara baru dan mekanisme baru yang belum pernah ia lakukan. Hingga pada akhirnya ia bisa melakukannya.

Ketika mendapat sindiran atau cacian dari orang sekitar, hal yang perlu dilakukan ialah kembali merenung dan bertanya kepada diri sendiri. Tetap fokus pada tujuan awal. Ketika kita gagal, itu hal yang wajar. Dari kegagalan kita bisa belajar sesuatu atau cara yang lain.

5. Menuntut Ilmu

Di komunitas baru camar yang baru, Jonathan banyak belajar dan berlatih. Sehingga ilmu dan kemampuannya untuk terbang lebih baik lagi.

Memang, usaha sendiri kadang membuat kita sedikit susah untuk berkembang. Tidak banyak orang yang bisa sukses secara otodidak.

Perlu adanya bekal pendidikan untuk mengembangkan kemampuan serta bakat yang kita miliki. Sehingga dengan begitu, kita lebih mudah dan cepat dalam mencapai keinginan kita.

Namun, dalam pendidikan tidak jarang pertentangan juga muncul. Rasa malas, lelah, bosan, dan juga perasaan puas terhadap yang dimiliki. Namun hal tersebut bisa dilalui oleh Jonathan.

6. Kecepatan Berpikir

Kecepatan berpikir hanya menunggu waktu. Yang penting adalah lakukan yang terbaik sekarang dan saat ini juga.

Pada dasarnya, semua ciptaan Tuhan bisa melakukan hal ini. Hanya saja kurangnya rasa ingin tahu dan belajar yang membuat kita tidak bisa mengetahui.

Hal yang harus dilakukan ialah lakukan sekarang dan di sini. Saat ini.

7. Kesempurnaan Cinta

Cerita tersebut mengajarkan bahwa ilmu tertinggi ialah ketika kita sudah mencapai kesempurnaan cinta. Apa yang telah kita dapatkan, itu kemudian dibagikan ke orang lain. Kita harus secara suka rela mengajarkan dan membagikannya.

Tidak ada berguna ilmu yang kita dapatkan jika hanya digunakan untuk diri sendiri, untuk memperkaya diri, keluarga, atau kelompok tertentu. Tetapi tingkatan ilmu tertinggi ialah ketika kita sudah mendapatkan semuanya dan itu diajarkan ke semua orang.

Dengan mengajarkan ilmu yang kita dapat, pasti juga akan menjadi amal jariyah buat kita kelak.

Selain itu, hal yang terpenting juga ialah kita tidak boleh meninggalkan atau melupakan orang-orang yang mungkin hidup dalam kesalahan meskipun mereka telah menyakiti kita. Dengan kesempurnaan cinta yang kita miliki, sudah seharusnya kita kembali menyampaikan apa yang kita ketahui dan yang telah kita dapatkan, agar orang yang dalam kesesatan berpikir juga bisa berubah. Minimal mengubah pola pikir mereka.

Hingga pada akhirnya, jawaban dari pertanyaan pertama ialah, pemimpin itu dilahirkan. "Dilahirkan oleh mamanya," kata seorang teman yang disambut dengan tawa.

Kisah Jonathan sering terjadi dalam kehidupan manusia. Ia bukan keturunan ketua adat, juga bukan keluarga pemimpin. Ia hanya seekor camar yang berbeda dengan yang lain dan bahkan diusir dari komunitasnya.

Tetapi semangatnya dalam berlatih yang memang menjadi kebutuhannya, membuatnya menjadi camar yang hebat. Tanpa terpikirkan sebelumnya, ia akhirnya menjadi pemimpin.

Pada dasarnya, Tuhan telah memberikan jiwa kepemimpinan dalam setiap orang. Tinggal bagaimana kita berusaha mengembangkannya.

Hehehe ulasan ini sebenarnya juga tugas dari hasil Peace and Leadership Class. Peserta disuruh menceritakan ulang dan ditambah dengan cerita kehidupan yang pernah dialami.

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga bermanfaat.

You Might Also Like

0 Comments

INSATGRAM

facebook