Hakuna Matata: Berdamai Dengan Masalah

October 15, 2020

Banyak faktor yang terjadi di luar kendali kita. Termasuk kehilangan. Bersedih apalagi down, bukanlah cara yang baik dalam menanggapi sebuah peristiwa buruk. Kita memiliki kemampuan yang bisa dikendalikan dari dalam diri. Yakni merespon segala peristiwa dengan tenang.




Hai teman-teman pembaca blogger. Lama tak mengisi blog ini. Dua minggu lalu saya kehilangan gawai dan laptop saat sedang tidur. Sehingga tidak sempat menulis dan mengisi blog ini. Karena alat yang biasa saya gunakan menulis, raib digondol orang.

Baiklah, kali ini saya ingin berbagi cerita pengalaman saya kehilangan barang penting gawai android dan laptop. Kemudian cara saya menanggapinya.

Yang namanya kehilangan tentu menyedihkan. Apalagi barang itu sudah menjadi barang penting.

Masygul. Dua kebutuhan sekunder saya sebagai mahasiswa akhir raib dicuri orang dalam sekretariat. Garong itu sangat berani. Masuk sampai ke kamar. Saat saya sedang tertidur lelap.

Ya, tidur saya sangat lelap waktu itu. Pulas. Sampai-sampai, saya tidak merasa ada orang masuk kamar, mengambil laptop di atas meja, dan gawai di samping kepala saya.

Sehari sebelum kejadian, saya ke Pangkep. Tante saya menikah. Jauh di pelosok. Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa.

Saya pulang ba’da Asar. Tetapi terlebih dulu singgah di Maros. Juga di pelosok. Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu.

Istirahat sejenak. Sebenarnya ibu melarang ke Makassar. Karena sudah melakukan perjalanan jauh. Apalagi waktu sudah malam.

“Besok pagi-pi baru ke Makassar,” kata ibu.

Berhubung saya akan melakukan penelitian, kemudian materi ajar dalam penelitian belum rampung. Sementara laptop di Makassar. Sehingga saya tetap berangkat ba’da Isya.

Di Makassar, saya sempat nongkrong dan cerita dengan teman. Ibu salah satu senior kami baru saja meninggal hari itu (semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah. Aamiin). Lalu jelang tengah malam baru mulai membuat materi ajar. Selesai jam 1 dinihari.

Sebelum tidur, terlebih dulu berselancar di media sosial. Lalu memasang alarm untuk bangun pagi. Sebelum jadwal perkuliahan.

Mungkin karena kelelahan, saya bangun kesiangan. Sekitar jam 9. Alarm tidak berdering.

Cek per cek, gawai sudah hilang. Ketika teman menghubungi, juga tidak aktif.

Saya kemudian deringkan menggunakan email di komputer. Juga tidak terdengar. Begitupun di pendeteksi lokasi keberadaannya tidak ditemukan.

Lalu saya sadar, ternyata laptop juga raib. Hanya tersisa mouse dan charger.

Semua sudah hilang. Saya bersumarah.

Setelah berbagai cara kulakukan untuk mencarinya. Menghubungi teman yang baru saja keluar dari sekretariat. Dan berbagai cara untuk menemukannya menggunakan email maupun software penyimpanan yang terhubung ke laptop dan android seperti dropbox. Tetap saja tak ditemukan.

Akhirnya saya menulis masalah ini ke lini masa facebook menggunakan komputer lembaga. Jangan sampai ada teman yang dihubungi ataupun, pencuri tersebut menyalahgunakan kontak dan media sosial saya.

Setelah itu, saya kemudian ke Graphari, di Jalan AP Pettarani untuk mengurus kembali nomor kartu saya. Beberapa yang diminta dalam pengurusan tersebut adalah KTP, tiga kontak yang terakhir dihubungi dalam sebulan, dan terakhir membayar kartu baru sebesar Rp 50 ribu. Tetapi waktu itu pihak Graphari menawarkan kuota 15 Gb, bonus telepon 300 menit dan SMS 1000 selama sebulan dengan harga Rp75 ribu.

Setelah itu, saya sudah pasrah. Kejadian ini diluar kendali. Saya berpikir positif, ini desain ketetapan Tuhan. Pasti ada hikmah yang lebih baik dari kejadian ini. Mungkin Tuhan ingin menguji kesabaran terlebih dulu sebelum memberikan sesuatu yang lebih baik untuk saya.

Jujur, kali ini saya cukup tenang dan damai menghadapi masalah ini. Karena sebelumnya saya juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Skalanya lebih besar. Kehilangan sepeda motor. Saat menjelang kelulusan di SMK.

Semoga pencuri tersebut diampuni dan diberi hidayah. Semoga barang milik saya adalah yang terakhir ia curi.

***

Lima tahun lalu, saya juga sempat mengalami hal yang sama. Skalanya juga lebih besar. Kehilangan sepeda motor. Tepatnya di Lapangan Vatulemo Kota Palu.

Waktu itu, Dinas Pendidikan Kota Palu mengadakan sebuah acara pameran pendidikan untuk semua sekolah di tanah kaili itu. Sekolah saya salah satunya. SMK BK Palu.

Acara ini diadakan selama lima hari dalam rangka menyambut hari pendidikan nasional. 28 April hingga 2 Mei 2015.

Cukup banyak produk yang dipamerkan sekolah saya. Di bidang otomotif, saya ditugaskan menjaga stand, menjelaskan kepada pengunjung yang dipamerkan. Ada engine stand, simulator EFI mobil avanza, juga mobil bermesin sepeda motor yang dirangkai sendiri selama sebulan.

Tepat 30 April, teman-teman saya memberi kejutan di tengah keriuhan pengunjung malam itu. Saya berulang tahun. Dan baru ulang tahun ini saya dibuat surprise seperti ini. Sejak lahir tidak pernah sama sekali. Dan saya tidak pernah berharap merayakan hal yang tidak begitu penting ini.

Sekitar jam 1 dini hari, pengunjung sudah pada pulang. Tersisa penjaga stand dan guru setiap sekolah masing-masing.

Saya mengecek kendaraan. Tukang parkir sudah tidak ada. Begitupun motor saya di parkiran juga hilang.

Sedih. Pastinya.

Bersama para guru dan teman-teman, kami berkeliling mencari sekitar daerah tersebut. Sampai pagi. Sampai di Kantor Polisi. Melapor. Tapi tindak lanjutnya tidak ada.

Waktu itu saya masih menutupi kesedihan di hadapan teman-teman dan para guru. Namun, saat pulang ke indekos, bertemu dengan kakak. Ia kaget mendengar kabar saya kehilangan motor. Ia menangis sejadi-jadinya. Saya pun ikut.

Bagaimana tidak, satu-satunya kendaraan yang kami berdua gunakan di kota, raib. Apalagi sekolah saya agak jauh dari indekos. Begitupun dengan kampus kakak saya. Sementara orang tua jauh di kampung.

Kesedihan yang berlebih itu ternyata tidak ada hasilnya. Semua hanya sia-sia. Tidak ada solusi dari bersedih, apalagi sampai murung.

Beruntung, pihak sekolah waktu itu berbaik hati. Dengan alasan saya kehilangan saat ditugaskan oleh sekolah, sehingga mereka memberi motivasi dan dukungan materi. Walaupun tidak seberapa, tetapi itu sudah membuat hati saya dan keluarga lebih tenang.

Sebulan setelah kejadian itu, hasil ujian nasional diumumkan. Saya tidak menyangka.

Sejak kelas X sampai XII, saya tidak pernah mendapat peringkat 1 di kelas, hanya 2, 3, dan 5. Namun saat pengumuman kelulusan, nama saya disebut pertama. Lulusan terbaik dari semua jurusan di SMK BK Palu angkatan 2015. Rasa bangga tak terkira.

Tidak berselang lama, saya juga ikut tes SBMPTN bersama sepupu di Palu. Ada tiga pilihan. Pertama Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif FT UNM. Kedua Pendidikan Matematika FMIPA UNM. Pilihan ketiga Pendidikan Bahasa Inggris Untad. 

Saat pengumuman, akhirnya saya dinyatakan lulus pada pilihan pertama. Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif FT UNM. Dua kejutan beruntun yang sangat-sangat menggembirakan setelah kehilangan sepeda motor waktu itu.

Saya yakin, ini semua adalah hikmah dari kehilangan sepeda motor saya. Begitupun dengan apa yang saya alami saat ini. Pasti ada hikmah yang lebih baik nantinya.

***

Dari dua kejadian ini, saya mencoba membaca pesan yang ingin disampaikan Tuhan. Ada dua situasi yang sama. Saat sepeda motor hilang, saya sedang kelas tiga, dan sedikit lagi lulus. Begitupun saat ini, Menjelang akhir-akhir masa studi saya di kampus.

Kejutan dari kehilangan saya waktu itu adalah mendapat nilai ujian tertinggi di sekolah dari berbagai jurusan. Dan kedua lulus di perguruan tinggi negeri melalui jalur SBMPTN.

Sehingga pada kejadian ini, saya berusaha tenang. Dan alhamdulillah.

Saya tidak terlalu bersedih, karena sejumlah file penting di laptop telah saya upload ke google drive. Begitupun dengan file-file penelitian juga tersimpan di flash disc. Kemudian untuk gawai, kartu saya telah saya kembalikan dan hingga saat ini masih menggunakan nomor lama.

Sementara untuk melanjutkan penyusunan penelitian, alhamdulillah, ada banyak teman yang memiliki laptop dan berbaik hati meminjamkannya. Begitupun dengan komputer.

***

Hakuna Matata. Dua patah kata dari bahasa Swahili yang artinya "jangan khawatir".

Istilah ini saya dapatkan saat mengikuti materi Peace and Leadership Class di Akademi Kita Bhinneka Tunggal Ika beberapa bulan lalu. Salah satu materi yang mewakili pengalaman pahit yang saya alami. Saya berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hakuna Matata mengajarkan bahwa jangan khawatir dengan segala yang terjadi dalam hidup. Karena segala yang terjadi, seperti keberuntungan, kecelakaan, termasuk kecurian, sudah menjadi ketetapan Tuhan dan terjadi di luar kendali kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah respon terhadap peristiwa tersebut. Tentunya, bersedih, apalagi sampai menyalahkan orang lain bukan solusi terbaik.

Ada rumus yang menarik dari materi ini. Yaitu E+R=O.

E: Defining the event (peristiwa yang terjadi)
R: Understanding the Responses (Tindakan terhadap peristiwa tersebut)
O: The Outcomes (Dampak dari peristiwa)

Kehilangan gawai, laptop, ataupun sepeda motor adalah peristiwa di luar kendali saya. Sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa barang saya akan diambil orang.

Yang bisa saya kendalikan adalah respon terhadap peristiwa tersebut. Dampak atau outcome yang terjadi setelah peristiwa, tergantung dari respon yang kita lakukan.

Bisa saja, peristiwa yang terjadi adalah sebuah ujian untuk menguji kesabaran ataupun kemampuan kita, tetapi respon kita malah negatif, sehingga menghasilkan outcome yang buruk.

Saya tidak pernah menyesali semua peristiwa yang terjadi pada saya. Entah itu peristiwa yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Terkadang respon sayalah yang kurang baik, sehingga hasil dari peristiwa itu tidak baik.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kalian yang membaca. (*)

You Might Also Like

0 Comments

INSATGRAM

facebook